Sunday, March 20, 2011

Tentang Bulan #1

 foto: dari sini 

Ini tentang bulan yang tak habis-habis saya kagumi, ini tentang bulan tempat saya mengadu pandang dengan dia, ini tentang binar yang begitu hangat saat malam tidak menangis. Ini tentang orang yang saya harap ada di tempatnya sana sedang memandang bulan serupa dengan saya. Orang yang belum pantas saya tatap.

Bulan memberi malam dengan binar. Lalu bintang menambah kelipnya. Langit terlalu indah ya.. jika tidak saya  bagi denganmu. Terlalu sayang jika saya menikmatinya sendiri. Walau kenyataannya memang saya sendirian.  Saya masih menatap bulan dan tatapannya masih sama pada saya. Saya harap bulan tidak pernah bosan dengan cerita saya padanya. Kalau dia tidak saya temui, mungkin dia sedang  sembunyi dibalik awan-awan gelap dan menunggu langit berhenti menangis. 


Bulan meredam rindu pada dia yang ada di hati saya. Jika dia memulas senyum dan menyapa saya tiba-tiba sinarnya menjelma tangan-tangan halus bidadari yang menghapus air mata. Lalu angin datang menemani saya merancau pada bulan.

Kepada kamu

Kamu yang tau saya suka memandang bulan. Kamu yang saya ingin ajak berbincang di bawah bulan. Ya kamu…kamu yang ada disana, tapi juga ada disini. Di hati saya.

Kita satu atap, di langit yang sama, menikmati malam yang sama. Hanya saya yang memang tidak pernah tau apa rasa yang saya ceritakan pada bulan adalah sama dengan rasa yang kamu miliki. Jika kamu adalah pria yang saya ceritakan pada bulan, lalu siapa wanita yang namanya kamu  ceritakan pada bulan? 

Apakah kebodohan jika saya berharap itu saya? apa lantas kamu menyalahkan saya yang terlalu banyak berharap?

Kalau saja, perasaan itu mudah di lihat dengan melempar koin dan dari 2 alternatif muncul satu yang pasti. Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini tidak semak di dalam hati. Tapi tentu siapa yang bisa mengukur dalamnya hati. 

Malam ini, paling tidak lihatlah langit , berbicaralah dan ubah sedikit saja kebekuanmu, ini perlu karna saya sesak dengan dingin dan bekumu. Ini perlu karena hati saya tidak terlalu besar menampung sesakan pertanyaan-pertanyaan tentang kebungkamanmu. 

­Mungkin kata-kata ini terlalu sesak,  tetapi hati sayalah yang lebih sesak…


salam
______________________________________________


To: Bulan yang dipandang @ririnanakdenan

6 comments:

Baby Dija said...

bulan tadi malem bagus banget ya Tante Mayank...

supermoon

jelas dan terang

Elsa said...

aku juga lebih suka bulan
dibanding bintang

uci cigrey said...

aduhai mai yg menatap bulan dan berbicara pada bulan :D
masih dalam radio galau mai, gmn kabarnya

mayank said...

Dija: iya sayang...
duh kangen deh *cubit pipi ah... :)

Mb Elsa: aku suka dua-duanya mb Elsa...ini kebetulan tulisan buat temen yang sukaaa sama bulan :)
makasi ya mb Elsa dah kesini lagi

Ucil: Duh ga pernah ikutan radio galau Fm, jangan2 kamu ikutan ya cil *ketauaaaan
ini tulisan buat temen kok cil... :)

bandit™perantau said...

Ah rembulan...
Andaikan malam ini kami saling memandangmu..
tidakkah hati kami penuh ucapan syukur?


Nih foto bulan yang pernah saya poto...
http://banditpemoto.blogspot.com/search/label/Bulan

bandit™perantau said...

Ada kesalahpahaman nih kite neng... hehehe..
Maksud saya bukan yang dikau pajang ini punya saya, bukan...
Cuma mau ngeshare saya pernah moto bulan purnama juga... heheheh
maafkan kekurangjelasan saya klo bgtu ye... :)