Tuesday, August 30, 2011

Selamat Idul Fitri

Subhanallah bertemu lagi dengan malam takbir, dan esok idul fitri.

Saya menulis ini di teras rumah, sambil melihat anak-anak kecil berpeci dan bersampir sarung sedang berkumpul merayakan malam takbir. Suara kembang api dan warnanya juga sedang terlihat. Ramai dan nuansa yang lama terindukan. Subhanallah… Alhamdulillah…


Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar
Laailaahaillallah Huaulaahhuakbar
Allahuakbar Walillahilham

Pict: Here

Selamat hari raya idul fitri 1432 H
minal aidzin wal faidzin,
mohon maaf lahir dan batin ya semuanya... :)

Sunday, August 28, 2011

Ramadhan

Hai Hallo friends

How’s your fasting going? I hope your fasting is going fine.


It's the 28th day of ramadhan... I feel sad and happy at the same time, happy because Insha Allah soon we meet idul fitri again and sad to imagine ramadhan will be leaving us soon. I hope we can meet Ramadhan again next year, Amiiin ya Rabbal Alamin



Pict: Here

Hope you all have a great ramadhan friends...

Monday, August 8, 2011

Interval



Dalam konsepnya interval bisa dibilang jarak dua antara yang memberikan gambaran agar tidak terlalu rapat dan tidak terlalu renggang. Terlalu rapat akan mengaburkan dan terlalu renggang akan membuat sulit tersambung satu sama lain. Semuanya mempengaruhi gerak dan kenyamanan masing-masing.


Mungkin saya dan anda sedang dalam Interval yang sama, jarak antara 2 batas, kita menggenggam batasannya. Dalam interval kita, saya tidak tahu batas ini koma atau titik. Kita mungkin tahu satu sama lain, melihat, mendengar, memberi isyarat, tapi tidak saling berhubungan. Kita saling menganggap bahwa interval ini adalah tempat ruang agar hati dan pikiran bekerjasama.


“Aku butuh waktu untuk sendiri.” Itu adalah batas intervalku,


“Aku akan mencari sampai dimana aku mampu.” Itu adalah batas intervalmu



Kita memberikan garis masing-masing untuk dipahami dan dihormati. Interval terjadi bukan karena tidak saling menginginkan. Tapi interval akan mengajarkan agar kita tidak masif sendirian, kita perlu mencair dan melebur satu sama lain.


Waktu mungkin membuat kita masih dalam interval yang sama, namun bisa juga tidak. Kita menggenggam batas dan juga tanda tanya, karena kita sama-sama tidak pernah tahu akhirnya. Dia pasti akan menyodorkan keputusan kepada kamu dan saya, mengingatkan apakah menginginkan titik atau koma.


Saya membiarkan kamu, kemana saja. Kamu membiarkan saya sendirian. Saya anggap interval ini adalah renungan dan pembuktian pada diri kita masing-masing setelah mencari dan berusaha menemukan, sampai pada akhirnya kita akan berkata “cukup”.


Pic: here

Saturday, August 6, 2011

Cerita Pejalan



Ini ketika beberapa tahun lalu saya berada di suatu toko pizza, di jogja. Bukan untuk membeli pizza, hanya berbincang-bincang dengan kepala pagawai toko membicarakan proposal. Ketika itu saya menghadap kaca mengarah ke jalan sambil mencoba menjelaskan isi proposal. Tiba-tiba di trotoar ada seorang kakek yang penampilannya mencuri perhatian saya. Saya mulai tidak fokus, dan ingin segera keluar mengikuti kemana kakek itu pergi. Tetapi kepala pegawai toko pizza itu sedang asyik bertanya dan saya harus menjelaskan satu persatu. Akhirnya ketika saya pulang dan saya pikir saya sudah kehilangan jejak kakek itu, ternyata kakek itu berteduh di bawah pohon pinggir jalan. Saya menghampirinya, mulai berkenalan.



Ketika saya mulai berbincang dengan beliau, saya menangkap, dulu dia tidak seperti ini, karena saat beliau bercerita terlihat pengetahuan banyak sekali, seperti bukan orang biasa. Namun, beliau tidak mempunyai rumah, kerabatnya jauh, dan sepertinya sudah sibuk dengan urusan keluarganya masing-masing. Setelah beristirahat, beliau akan pergi ke gereja. Saya terdiam. Di usia senja berjalan sendirian tanpa keluarga. Sebelum saya meninggalkannya kembali sendirian, saya memberikan nomer ponsel saya, walau beliau tidak mempunyai ponsel saya harap ketika terjadi sesuatu, setidaknya ada wartel atau bisa meminjam ponsel seseorang untuk menghubungi saya. Walau saya tahu saya tidak bisa berbuat banyak, namun saya harap beliau bisa menghubungi saya. Saat itu saya masih sering teringat kakek itu, namun sampai sekarang beliau tidak menghubungi saya. Saya harap beliau baik-baik saja dan saya yakin Allah menjaganya.



Jogja, di tempat ini mungkin tidak selalu dengan keindahannya. Beberapa hari yang lalu, saya sempat mengunjungi festival kesenian jogja di benteng Vredeburg dan festival gamelan di Taman Budaya. Saya pulang belum terlalu larut sekitar pukul 21.30, pemandangan sudah lumayan sepi, lalu terlihat ada kakek nenek di depan emperan toko sedang minum teh dari gelas plastik, mereka berbincang layaknya sedang berada di rumah. Pada waktu saya kembali datang ke festival gamelan, saya berhenti di kejauhan ternyata masih ada kakek nenek itu, dan beberapa orang yang mungkin keluarga. Mereka tidur pepesan di sana dan sepertinya emperan toko itu memang “rumah” mereka. Malam sudah mulai larut dan saya tidak tahu harus berbuat apa. Perasaan campur aduk, mungkin boleh dibilang banyak ditemukan hal seperti ini di tempat lain, tapi saya pikir tidak di jogja. Disaat ada beberapa anak muda yang baru keluar jam 10 malam untuk menikmati gemerlapan dunia, di sisi lain ada orang-orang yang menahan dingin tidur di emperan toko. Mungkin memang seperti itu hidup, seperti dua sisi mata uang yang berkebalikan.



Namun semua dapat kembali pada ruang di dalam diri manusia, yaitu hati. Kemewahan tidak selalu menandakan hidup cerah dan bahagia jika hati tak pernah merasa cukup dan selalu ingin menjadi lebih dari pada orang lain. Dan miskin harta juga tidak menjamin sebuah kebahagiaan, dengan keadaan yang kurang manusia biasanya harus jatuh bangun untuk bertahan, namun karena hal tersebut tidak sedikit di antara mereka mempunyai hati yang kaya, mereka mempunyai ketahanan yang lebih kuat menjalani hidup. Hanya orang yang kaya hati yang dapat bertahan. Semoga Allah melindungi dan mempermudah jalan hidup mereka.



Jalanan mempunyai banyak cerita yang disimpan oleh pejalannya. Karena jalan tempat berbagi, maka dengan berhenti, mengambil ruang di pinggirnya maka kita bisa saling mencoba menilik sisi cerita pejalan satu sama lain. Walau jalanan terkadang membuat saya menginginkan sesuatu yang di tampilkan menarik, namun jalanan juga banyak membuat saya bercermin, membuat saya mulai mengerti akan hidup dan apa yang sudah diberikan Allah pada saya itu sudah lebih dari cukup. Dan dari sini saya bisa menarik kesimpulan lagi bahwa jalanan adalah—"rumah" bagi sebagian orang yang tidak mempunyai rumah.



*Tulisan ini hanya rancauan hati dan pikiran yang tiba-tiba muncul ketika saya menemukan orang-orang special di jalanan*


Pic: here

Friday, August 5, 2011

Jalan


Bagi saya jalanan mengajarkan banyak hal. Mereka melintas, bergerak, dalam detik waktu yang benar-benar larut dan mengalir begitu cepat. Ketika menepi, melihat apa yang terjadi, semua akan terasa fantasi. Semua tejebak dalam gerak. Dengan tetap menyimpan banyak cerita.



Bagitu menarik saat saya menemukan persimpangan, yang mengajarkan saya menentukan arah. Lampu merah yang mengharuskan berhenti, lampu hijau mempersilahkan berjalan lagi, dan lampu kuning mengingatkan untuk berhati-hati. Kadang terpampang aksen-aksen agar jalanan terasa tidak membosankan, agar terasa teduh, dan—inilah hidup, bervariasi.



Seorang sering terlihat terburu-buru tanpa kita tahu alasannya mengapa, mencoba memperkirakannya sendiri. Memahami ada juga yang memaki. Di antaranya ada yang tidak mau mengalah namun ada pula yang mau meluangkan waktunya memberikan ruang agar pejalan yang lain bisa melewati jalan. Jalan adalah tempat berbagi.



Pemberhentian jalan memberikan waktu untuk merenung, menajamkan indra, dan membuka yang ada di dalam sini (hati), melihat seseorang yang tinggal dan hidup di pinggir jalan, lalu anak kecil yang seharusnya belum layak belajar pada jalanan yang terlalu keras, akan dengan mudah di temukan duduk di trotoar, mengamen, berjualan Koran, atau membersihkan kendaraan saya. Dan benar, jalanan tidak pernah melihat umur atau latar belakang siapapun, siapa datang dan mencari hidup di sana akan dipukulnya dengan keras. Bagaimana tidak, jalan adalah tempat lalu lalang seseorang dengan hati yang tidak bisa terprediksi, watak yang selalu beragam.



Jalan juga berisi kenangan. Mengingatkan potongan yang terbawa waktu begitu cepat. Dan bagi sebagian orang, jalan menjadi tempat favorit melarutkan derai dalam hati, dan mata—setelah kita menemukan seseorang di sana, atau hanya memunguti sisa jejaknya, hanya untuk sebuah kenangan untuk dinikmati sendirian.



Bentuknya sederhana, namun tercipta sebagai ruang untuk mempermudah, tempat kaki memahat jejak-jejak dan aliran menuju tempat tertuju. Kadang di pagi hari atau waktu luang pada hari, saya habiskan hanya untuk menikmatinya saja. Hal yang awalnya terasa sulit dijelaskan kadang mengalir begitu saja di jalan. Saya memaknainya proses.



Nikmati jalanmu.




*saat kata-kata berloncatan di tengah jalan minta ditangkap, disusun perkalimat*



pic:here