Saturday, April 28, 2012

menyimpan senja


Menikmati hening, sama dengan menyuguhkan hal-hal yang memang harus direnungkan.

Ini bukan pertama kalinya saya duduk diam sendirian memandangi senja, tapi kemarin senja mempesona. Melipir sebentar, merasakan nafas sejenak, mengambil beberapa gambar untuk saya bawa pulang kemarin sepulang kerja. Saya bahagia ketika semesta masih berbaik hati menyuguhkan sesuatu yang  indah. 

 
Melihat anak-anak kecil bermain layang-layang dan mereka berjalan, saya tidak menyangka mereka mendatangi saya
“mba ngapain mba di sini?”
“ga ngapa-ngapain…”
“terus mba mau kemana?
“ga kemana-mana juga, cuma mau liat-liat aja”
“oooh….”
Akhirnya mereka kembali bermain lagi


And so annoying, I found my cheek drenched in tears. fiuh...
I realize that,  this life rotate like a roller coaster. I had been through, rounds of fun and now i found my self without a soul, felt really tired.
I feel disgusted with the circumstances that eventually led to a fake smile and sincerity.



I miss my self , I miss sincerity and the smile that is really for me.
I miss acceptance of people,
unconditionally.





With it’s ups & downs, fake & sincerity, cloudy & sunny, happy with laughs, sadness with tears. 

But, That is what life is like.
Keep your head to the sky and wipe your tears girl…
you’ll find happiness, in time..., when you letting all flow is…

-Nanda Mayank

photo by me


Sunday, April 15, 2012

believe



Tentang keceriaan dan kesepian yang datang kepada saya mengajarkan bahwa itulah jiwa yang harus seimbang.
 


Di mana kita menginjakan kaki dan di mana keinginan kadang terlalu tinggi, jiwa harus belajar memahami, tidak semua yang kita harapkan selalu akan muncul hanya beberapa cm di atas kepala, jika tidak apa atau siapa maka akan ada gantinya, dan tugas kita hanya percaya.


photo by mauli

Time flies…
And my soul learned
just believe...

 Langkah demi langkah, tidak melulu cepat melaju, butuh waktu.
Dan kita saling menuju, bukan begitu…

NM 

Monday, April 2, 2012

24


Telah menjalani angka 23, dengan awal surat ini…, 


surat dari mayank 22th. Ditulis penuh hati-hati pada harapan dan doa. Saya menjalani fase meninggalkan dan menjalani hal baru. Pertemuan dan perpisahaan pada teman dan tempat hingga sampai akhirnya di ujung, dan pada awal

pict weheartit
 
24. Saya fikir saya harus merubah diri saya dalam beberapa hal, mungkin yang pertama adalah belajar memaafkan apa yang telah terjadi di belakang. Beberapa kesalahan membentuk saya sekarang, saya akhirnya tahu kebenaran. Saya dipertemukan dengan beberapa orang dan kejadian pasti bukan untuk niat yang tidak baik. Tapi untuk belajar bahwa seringnya kebetulan bukan berarti akan berjodoh, kebetulan adalah untuk memahami semua waktu dan masa yang terjadi sudah terjadwal. Dengan siapa saya akan bertemu, mengulurkan tangan lalu tersenyum. Bukan bertemu orang yang salah lalu kita menyayanginya, tapi hidup adalah tentang pilihan, benar dan tidak. hidup adalah memilih jalan. Kepada siapa kita setia, kesalahan atau kebenaran. Dan kedua saya harus belajar banyak tentang mensyukuri. Harapan dan doa sebelum saya bicarakan pada-Nya, Dia sudah tahu apa yang saya butuhkan.


Happy birthday self . . .


Thank’s GOD. . . subhanallah, walhamdulillah...

Sunday, April 1, 2012

Menjelang Sore

Bersebelahan. Di kursi panjang. Di depan kita meja dari sebuah gerobak berisi penuh makanan. Di Angkringan. Sebelah stadion olahraga. Aku sengaja duduk di sebelahmu, karena satu hal. Aku tidak mau menatap matamu. No, no, alasan itu sok romantic, sebab yang tidak dipungkiri lagi karena memang cuma ada satu bangku. Ya, itu alasan tepatnya. Kita mengamati beberapa hal, dan mendiskusikan banyak hal. Yang teramati hanya stadion, tukang angkringan, dan makanan. Tapi yang kita diskusikan bisa sampai kemana-mana. Mulai game kesukaanmu, pekerjaanku hari ini, ikan sampai kucing yang kau pelihara, buku yang aku baca, dan protesan-protesan kamu tentang hidupku (fiuuuh..) tapi aku menerimamu dan segala protesanmu, aku suka itu.

Aku memesan kopi, mengambil nasi. Nasi kucing. Sama kayak kamu. Suara gelas dan sendok tukang angkringan saat membuat kopi menemani kita bicara. Kamu bilang, aku terlalu banyak berinteraksi di satu ruang dari pagi sampai malam, begadang, lupa makan, dan akan berakhir kata “sorry aku ga enak badan” setiap kamu mengajak berbincang sebentar. 

Aku bilang aku harus mengejar semuanya, karena aku berada diantara orang-orang yang berlari, tidak mungkin aku hanya diam diri. Tapi jika semua selesai, seperti sekarang aku juga bisa kan nangkring lagi di sini sama kamu? Aku menyeruput kopi dan kamu makan gorengan sambil tersenyum manggut-manggut.
Sambil mengambil gorengan satu lagi, kamu bilang kamu menemukan ular, saat kamu main ke sawah. Entah dari mana asalnya, kamu suka, kamu bawa pulang, kamu beri makan, kamu pelihara sampai sekarang. Aku berhenti makan. “ya, ya, ya kamu takut dan geli sama kelas reptile, kita ganti kelas pisces aja ya?” kamu bilang sambil ketawa-ketawa. “Besok aku bawain akuarium sama ikan koki, satu kuning, satu orange ya…buat kamu..” sambil mengambil gelas kopi, kamu menyeruput, dan tatapanmu seolah menanyakan “bagaimana? Kamu mau kan? Aku tahu kamu juga kesepian di kostan”. Sial. Kamu tau rencanaku buat beli akuarium dan pelihara ikan belum pernah kesampaian.

Aku meringis pertanda mau banget. “dasar wanita ini” kau selalu bilang begitu saat aku meringis dan mulai banyak bicara. Semakin sore, stadion semakin ramai, dan kita harus pulang. Aku harus menjamah laporan-laporan yang ditugaskan padaku dan kamu harus mencari makanan untuk reptilmu. Saatnya kita membayar makanan kita, hal yang sering ditanyakan beberapa orang saat aku dan kamu makan. “Siapa yang bayar??”. “Jelas kita”. “Caranya?” pertanyaan tambahan muncul. Mau makan di angkringan, lesehan atau bahkan restoran. Tentu untuk makananku, aku akan memberikan uangku dulu padanya, biar dia yang membayarnya, atau aku akan mengganti setelahnya. Aku bukan seseorang yang perlu dia tanggung. Untuk sekarang, dia cukup menanggung reptil dan ikan-ikannya saja. Iya kan… hehehe

Sengaja jalan kaki menikmati udara sore yang jarang dilalui bersama. Kamu memasukkan tangan ke saku jaketmu dan aku di sebelahmu menunjuk sana-sini seolah merancang sebuah kota sambil banyak bicara. Tiba-tiba lengan sikumu memanggil lenganku lalu menunjuk kecil ke arah guratan kuning langit senja. Kamu selalu tahu hal-hal yang bisa buat aku diam, ternganga-nganga. "Jalan itu masih panjang, dan yang kita tempuh baru beberapa langkah saja", katamu. “So… let me walk with you”, kataku. Kamu tersenyum mengulurkan tangan dan berkata “take my hand, I walk beside you, and I have so many things to see with you”.

Dulu pernah di pensiltanpawarna 2010 kangen aja…. : )