Sunday, April 1, 2012

Menjelang Sore

Bersebelahan. Di kursi panjang. Di depan kita meja dari sebuah gerobak berisi penuh makanan. Di Angkringan. Sebelah stadion olahraga. Aku sengaja duduk di sebelahmu, karena satu hal. Aku tidak mau menatap matamu. No, no, alasan itu sok romantic, sebab yang tidak dipungkiri lagi karena memang cuma ada satu bangku. Ya, itu alasan tepatnya. Kita mengamati beberapa hal, dan mendiskusikan banyak hal. Yang teramati hanya stadion, tukang angkringan, dan makanan. Tapi yang kita diskusikan bisa sampai kemana-mana. Mulai game kesukaanmu, pekerjaanku hari ini, ikan sampai kucing yang kau pelihara, buku yang aku baca, dan protesan-protesan kamu tentang hidupku (fiuuuh..) tapi aku menerimamu dan segala protesanmu, aku suka itu.

Aku memesan kopi, mengambil nasi. Nasi kucing. Sama kayak kamu. Suara gelas dan sendok tukang angkringan saat membuat kopi menemani kita bicara. Kamu bilang, aku terlalu banyak berinteraksi di satu ruang dari pagi sampai malam, begadang, lupa makan, dan akan berakhir kata “sorry aku ga enak badan” setiap kamu mengajak berbincang sebentar. 

Aku bilang aku harus mengejar semuanya, karena aku berada diantara orang-orang yang berlari, tidak mungkin aku hanya diam diri. Tapi jika semua selesai, seperti sekarang aku juga bisa kan nangkring lagi di sini sama kamu? Aku menyeruput kopi dan kamu makan gorengan sambil tersenyum manggut-manggut.
Sambil mengambil gorengan satu lagi, kamu bilang kamu menemukan ular, saat kamu main ke sawah. Entah dari mana asalnya, kamu suka, kamu bawa pulang, kamu beri makan, kamu pelihara sampai sekarang. Aku berhenti makan. “ya, ya, ya kamu takut dan geli sama kelas reptile, kita ganti kelas pisces aja ya?” kamu bilang sambil ketawa-ketawa. “Besok aku bawain akuarium sama ikan koki, satu kuning, satu orange ya…buat kamu..” sambil mengambil gelas kopi, kamu menyeruput, dan tatapanmu seolah menanyakan “bagaimana? Kamu mau kan? Aku tahu kamu juga kesepian di kostan”. Sial. Kamu tau rencanaku buat beli akuarium dan pelihara ikan belum pernah kesampaian.

Aku meringis pertanda mau banget. “dasar wanita ini” kau selalu bilang begitu saat aku meringis dan mulai banyak bicara. Semakin sore, stadion semakin ramai, dan kita harus pulang. Aku harus menjamah laporan-laporan yang ditugaskan padaku dan kamu harus mencari makanan untuk reptilmu. Saatnya kita membayar makanan kita, hal yang sering ditanyakan beberapa orang saat aku dan kamu makan. “Siapa yang bayar??”. “Jelas kita”. “Caranya?” pertanyaan tambahan muncul. Mau makan di angkringan, lesehan atau bahkan restoran. Tentu untuk makananku, aku akan memberikan uangku dulu padanya, biar dia yang membayarnya, atau aku akan mengganti setelahnya. Aku bukan seseorang yang perlu dia tanggung. Untuk sekarang, dia cukup menanggung reptil dan ikan-ikannya saja. Iya kan… hehehe

Sengaja jalan kaki menikmati udara sore yang jarang dilalui bersama. Kamu memasukkan tangan ke saku jaketmu dan aku di sebelahmu menunjuk sana-sini seolah merancang sebuah kota sambil banyak bicara. Tiba-tiba lengan sikumu memanggil lenganku lalu menunjuk kecil ke arah guratan kuning langit senja. Kamu selalu tahu hal-hal yang bisa buat aku diam, ternganga-nganga. "Jalan itu masih panjang, dan yang kita tempuh baru beberapa langkah saja", katamu. “So… let me walk with you”, kataku. Kamu tersenyum mengulurkan tangan dan berkata “take my hand, I walk beside you, and I have so many things to see with you”.

Dulu pernah di pensiltanpawarna 2010 kangen aja…. : )

2 comments:

Ado said...

Cerita yang menarik.

xamthone plus said...

salam kenaL ..