Tuesday, March 22, 2011

Tentang Bulan #2

foto : dari sini

Ingatan tentang bulan selalu hadir, ketika dalam perjalanan dia tersenyum dan mengerdip. Saya benar-benar tidak menyangka bulan begitu menyihir saya, saya mengaguminya. Cahayanya hening. Lengkungnya tenang, ada keindahannya halus meresap. 


Kepada Kamu yang berjarak pada saya.

“Lihatlah bulan disana agar kita merasa  dekat”

Tidak pernah ada kata selamat datang dan berpisah. Itu mungkin lebih baik bagi lidah dari pada terucap, tapi tidak buat hati yang akan merasakan mana yang datang dan pergi tanpa permisi. Sulit bagi diri menimbang-nimbang sesuatu yang tak pernah terungkap. Bukan karena tak bisa, namun karena menjaga.

Kemarin mungkin saya terlalu sibuk merangkai harapan dan mimpi. Merajut-rajut rindu sendiri, lalu selesainya  saya kembali berbincang dengan bulan, berharap disana kamu belum lelah. Saya masih dengan kata-kata yang berlompatan, meluap-luap siap mengalir saya bagi denganmu. Tiba-tiba mereka menenggelamkan saya sendirian. 

Kemana kamu?            

Saya tidak menghitung jejak, tapi ternyata jejak saya sampai di titik ini. Sudah 5 tahun. Mungkin disini kamu yang lelah.  Tapi ternyata ada bintang yang menarik perhatianmu, bintang kejora yang kerlipnya merindukan. Wajahnya gemerlapan seperti berlian yang berjatuhan, ceritanya memesona, yang mungkin bagimu mengalahkan bulan. 

Bulan memerah, suram cahayanya

Saya ingin merengkuhnya erat, saya sedih ketika kamu nanti akan memandang bulan hanya sekedar hiasan. Saya akan sedih ketika kamu akan terbiasa ramai dengan bintang-bintang. Saya sedih ketika saat ini malam sudah sangat mendingin ketika kamu beku melihat bulan.

Saya tidak akan merajuk, saya akan melepas rajutan rindu dan rangkaian mimpi semu pada alirannya sendiri, saya akan biarkan mereka lepas menjauh. Semoga  sampai muaranya. 


salam
____________________________________________


Saya belum tahu apa ini ujung dari cerita-cerita saya pada bulan atau ini hanya sebagian rotasi yang membuat dia sejenak menghilang. Yang saya tau saya harus berdamai dengan keadaan perih seperti ini. 

Tuhan sedang mendengarkan saya, dan akan membuatnya mengerti.

To: Bulan yang selalu indah @ririnanakdenan

No comments: