Tampilkan postingan dengan label sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sahabat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 November 2011

Little Nature




















Hidup memang kadang seperti ini. Tampak blur, tidak mengerti apa, bagaimana, kenapa, kapan. Mungkin hal yang saya lakukan akan memasang musik lalu tenggelam dalam lirik-lirik, atau masuk ke dalam selimut dan berharap pertanyaan tenggelam untuk sejenak. Mungkin ketika kita tidur dengan bantal yang basah dengan air mata setelah bangun air mata itu telah kering, sejak kita tinggal larut dengan mimpi-mimpi, bertemu dengan seseorang yang tidak kita kenal lalu  jatuh hati begitu saja, atau berjalan-jalan dengan sahabat lama kemudian mereka tertawa bersamamu, cukup menenangkanmu dan setelah bangun kamu tersenyum seperti semua telah baik-baik saja mungkin juga lebih baik ketika kita mulai tersenyum.




Bagaimana menemukan keberanian untuk senantiasa jujur pada diri sendiri—bahkan pada saat kita tak yakin akan diri kita?  —Paulo Coelho



Ada waktunya kita perlu keluar menginjak rumput tanpa alas kaki, menghirup udara, mencium bau rumput, dan menari dengan angin lalu kupu-kupu menghiasimu di udara, mengingatkan kamu agar mendengarkan hatimu sendiri, membebaskan apa yang benar-benar kamu inginkan, dan semoga semesta akan mengamini yang terbaik.



Sampai akhirnya meletakkan apa yang kita rasakan, istirahat sejenak dan tersenyum, semua masih baik-baik saja. Semuanya layak disyukuri. -catatan-


 foto by lulu dita and me

Tidak ada salahnya bermain dengan bunga-bunga rumput, seperti kita kecil, mengumpulkannya satu demi satu lalu dibawa pulang ke rumah. Kita pandang-pandangi dalam vas bunga dari kaleng roti bergambar putri cina, dan dalam hati berbisik—"terimakasih kalian turut membahagiakanku…" :')
xx

Minggu, 09 Oktober 2011

bridesmaid bouquets

Pict: Here


Sesekali ketika termenung, saya menatap buket bunga yang saya bawa pulang dari pernikahan sahabat saya, saya memanggilnya Cece, walaupun nama itu jauh dari nama aslinya. Buket itu saya bawa setelah terbuang. Ada seseorang yang mendapatkan lalu melemparkannya sehingga rusak begitu saja. Lalu bunga-bunga tercecer dan yang masih utuh dipungut sebagian teman. Saya menatapi buket itu di sana, saya ambil. Karena sedari awal saya ingin buket itu. Bukan berarti saya menginginkan menjadi the next one. Tapi saya anggap itu adalah sebuah bagian penting yang dibawa sahabat saya ketika menikah. Saya mengambilnya dan memungut beberapa bunga dan menyusunnya kembali. Saya bawa pulang.


Ketika saya menatapinya, saya teringat cece, ketika dulu kami hampir 2 bulan tinggal bersama, teman satu kamar ketika tugas kuliah kerja nyata, sampai tugas itu selesai beberpa tahun yang lalu kami masih sering pergi bersama-sama, kami betah di foodcourt mall dari sebelum siang hingga sore hanya untuk ngobrol kesana-kemari tidak habis, kami lanjutkan di kos. Rasanya ketika saya melihat dia di pelaminan, tentu saya terharu bahagia, menangis bahagia. Sahabat saya menjejak hidup yang berbeda sekarang, melangkah karena ikatan suci, seperti hidup yang benar-benar baru.



Setelah saya kembali ke kost, Cece mengirimkan pesan singkat, hingga saya menulis ini.



Saya pembenci jarak yang jauh. Harus banyak yang dikorbankan untuk orang-orang tersayang. Beberapa sahabat saya di kampung halaman saya menikah dan saya tidak dapat hadir. Dulu saya dan sahabat-sahabat saya selalu bilang ketika kami masing-masing menikah, harus datang. Namun saya ingkar. Hal ini membuat saya sedih ketika berada di tempat saya ,diam sejenak di waktu yang sama ketika sahabat saya mengikat janji suci.



Rasa sayang, harapan di hati saya beserta doa ada untuk mereka, sahabat-sahabat saya.


<3

Mayank.